Sample Text

DALAM KETIDAK SEMPURNAAN FISIK MAKA SAAT INILAH KU BERUSAHA BANGKIT, BERUSAHA BERJALAN DENGAN KEDUA TONGKAT DAN PADA SAATNYA NANTI KU AKAN BERLARI KENCANG SEKENCANG KENCANGNYA

Social Icons

SAAT KAKI KANANKU TIADA KUASA TUK MELANGKAH, KEDUA TANGANKU TIADA KUASA TUK DIGERAKKAN DAN PUNDAK KANANKU TIADA KUASA TUK DIANGKAT, MAKA DI SITULAH AKU TERTIDUR

Minggu, 13 Februari 2011

SOAL - SOAL OLIMPIADE KIMIA



Olimpiade Kimia,
Dua kata yang unik namun serasa sulit bagi orang - orang yang tidak memahaminya, akan tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa dengan soal - soal kimia, tiada yang tidak mungkin. Semua pasti bisa dan pasti bisa dikerjakan.

Browsing, itulah kegemaranku tuk mencari artikel - artikel yang menarik dan bisa aku tampilkan di blog ku. Langkahku terhenti di http://www.ico.web.id/ suatu website yang menyediakan soal - soal olimpiade kimia.

Aku ambil soal - soal tersebut dan aku tampilkan ulang dengan harapan soal - soal tersebut bisa bermanfaat bagi semua orang yang membutuhkannya.

Untuk mengundul soal - soal tersebut silahkan klik di link di bawah in, namun soal - soal tersebut dalam format pdf. Jadi untuk membacanya dibutuhkan Aplikasi Acrobat Reader :
1. Soal Teori 1 silahkan klik di sini
2. Soal Teori 2 silahkan klik di sini
3. Soal Teori 3 silahkan klik di sini
4. Soal Praktik 1 silahkan klik di sini
5. Soal Praktik 2 silahkan klik di sini
6. Soal Praktik 3 silahkan klik di sini
7. Soal Essay silahkan klik di sini
8. Soal OSN Kabupaten 1 silahkan klik di sini
9. Soal OSN Kabupaten 2 silahkan klik di sini
10. Soal OSN Profinsi silahkan klik di sini

Jumat, 04 Februari 2011

SOAL PERBAIKAN ULANGAN HARIAN I TIK


Bagi peserta didik SMP Negeri 1 Kepil Kabupaten Wonosobo yang tidak memenuhi nilai KKM pada saat Ulangan Harian I. Silahkan download paket soal Perbaikan Ulangan Harian I di bawah ini. Silahkan di cetak, dikerjakan dan dan dikumpulkan di Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas IX

Untuk mengunduh file soal ulangan Harian I dapat di klik di link berikut ini

Senin, 24 Januari 2011

Model-Model Pembelajaran


Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

Metode Role Playing

Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan:
1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
Kekurangan:
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini

Sumber : http://wijayalabs.wordpress.com

Kamis, 09 Desember 2010

ANALISIS ULANGAN HARIAN DAN DAFTAR NILAI



Bagi rekan - rekan yang menghendaki Blangko Analisis Ulangan Harian yang sudah disertai dengan formulanya, maka rekan - rekan dapat mengunduhnya di sini, sedangakn yang menghendaki Daftar Nilai yang tentu saja sudah disertai dengan formulanya, maka rekan - rekan tinggal klik di sini

Minggu, 28 November 2010

Implementasi CTL dalam Pendidikan Karakter



Metode Contextual Teaching and Learning (CTL) yang berusaha mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata siswa tampaknya patut diusung sebagai metode alternatif pendidikan karakter. CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya dalam kehidupan keseharian mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat delapan komponen yang harus terpenuhi sebagai berikut:
• membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna (making meaningful connections),
• melakukan pekerjaan yang berarti (doing significant work),
• melakukan pembelajaran yang diatur sendiri (self regulated learning),
• melakukan kerja sama (collaborating),
• berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking),
• membantu individu untuk tumbuh dan berkembang (nurturing the individual),
• mencapai standar yang tinggi (reaching high standards), dan
• menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment).
Banyak cara efektif untuk mengaitkan pengajaran dan pembelajaran dengan konteks situasi sehari-hari siswa. Setidaknya enam metode berikut ini dapat ditempuh:
• 1) menghubungkan pembahasan konsep nilai-nilai inti etika sebagai landasan karakter dengan keseharian siswa,
• 2) memasukan materi dari bidang lain di dalam kelas,
• 3) dalam mata pelajaran yang tetap terpisah terdapat topik-topik yang saling berhubungan,
• 4) mata pelajaran gabungan yang menyatukan isu-isu moral,
• 5) menggabungkan sekolah dan pekerjaan,
• 6) penerapan nilai-nilai moral yang dipelajari di sekolah ke masyarakat. Dalam catatan Johnson, implementasi dari langkah keenam ini di Tillamook Junior High School menunjukkan bahwa para siswa mempunyai kemampuan luar biasa untuk mencapai standar pendidikan dan standar etika yang tinggi jika mereka melihat mengapa hal yang mereka lakukan itu penting.
Sejalan dengan konsep pendidikan moral Kohlberg bahwa pendidikan karakter harus melibatkan berpikir aktif dalam menghadapi isu-isu moral dan menetapkan suatu keputusan moral. Dalam upaya itu maka penerapan CTL dalam pendidikan karakter menghendaki adanya pembelajaran mandiri dan kerja sama. Pada tahap ini yang dikondisikan untuk dilakukan siswa adalah siswa belajar langsung dengan mencari dan menggabungkan informasi secara aktif dari masyarakat maupun ruang kelas, lalu menggunakannya untuk alasan tertentu. Selanjutnya siswa dirangsang untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik seputar karakter. Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu siswa untuk menemukan kaitan antara pelajaran di kelas dan situasi yang mereka alami baik di sekolah, di rumah, maupun sebagai anggota masyarakat. Kemudian siswa diberi kesempatan membuat pilihan sendiri dalam menentukan keterlibatan mereka dalam permasalahan karakter yang dipelajari. Dan pada akhirnya siswa mampu membentuk kesadaran diri, yaitu kemampuan merasakan perasaan pada saat perasaan itu muncul.
Pendidikan karakter mensyaratkan adanya kemampuan berpikir kritis untuk mempertimbangkan dan mengambil tindakan moral dalam bentuk karakter-karakter positif siswa. Siswa dilatih untuk bersikap kritis terhadap isu-isu moral yang terjadi dengan mengajukan tiga pertanyaan berikut: prinsip-prinsip apa yang dijadikan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari?, kewajiban apa yang timbul dari hubungan-hubungan siswa dengan yang lain?, apa konsekuensi yang didapatkan dari keputusan dan tindakan yang diambil?. Pertanyaan-pertanyaan ini mengajarkan siswa untuk menunjukkan tanggung jawab moral sebagai anggota masyarakat. Selain itu berpikit kritis seperti ini juga merupakan penjernihan nilai dalam menghadapi berbagai pandangan hidup yang berkembang di masyarakat.
Dalam menguatkan kesadaran berkarakter positif siswa perlu dibawa ke dalam pengalaman hidup bersama orang lain dalam situasi yang sangat berbeda dari kehidupan sehari-harinya. Dengan pengalaman langsung seperti ini anak dapat mengenal lingkungan hidup yang berbeda dalam cara berpikir, tantangan, permasalahan, termasuk tentang nilai-nilai hidup. Membantu dan melayani anggota panti asuhan misalnya akan memberikan kesan berharga dan kesadaran pentingnya karakter peduli kepada orang lain. Upaya seperti ini disebut metode live in.
Hal terakhir yang sangat mendasar dalam metode pendidikan karakter adalah keteladanan. Tumpuan pendidikan karakter berada pada guru sebagai character educator. Konsistensi dalam mengajarkan pendidikan karakter tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di dalam kelas, melainkan nilai itu juga tampil dalam diri sang guru, dalam kehidupan nyatanya di luar kelas. Karakter guru akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian siswa. Bahkan bukan hanya guru, metode ini mengandaikan semua orang dewasa dalam komponen sekolah seperti kepala sekolah, karyawan, penjaga sekolah, pengurus perpustakaan, petugas kebersihan, dan lain-lain adalah model-model karakter. Melalui metode ini diharapkan siswa menemukan lingkungan nyata di mana nilai-nilai etika dipegang teguh dan karakter tumbuh.

Daiambil dari : http://www.inilahguru.com/2010-11-10-16-44-57/35-pedagogi/167-penerapan-metode-contextual-teaching-and-learning-dalam-pendidikan-karakter.html

Kamis, 18 November 2010

CARA – CARA MEMPEROLEH SAMBUNGAN INTERNET


A. Macam – macam Koneksi Internet

1. Melalui saluran telepon Dial Up
2. ISDN ( Integrated Service Digital Network )
3. ADSL ( Asymetric Digital Subscriber Line )
4. GPRS ( General Packet Radio Service )
5. Teknologi WAP ( Wieless Aplication Protocol )
6. Melalui 3G
7. Melalui WiFi
8. Radio Paket
9. VSAT (Very Small Aperture Terminal)
10. TV Kabel
11. Kabel Listrik (PLC / Power Line Commuication )

B. Melakukan Koneksi Internet
Untuk mengakses internet, pengguna harus menghubungkannya computer dengan ISP (Internet Service Provider).
Contoh beberapa ISP di Indonesia anatara lain :
1. CBN
2. INDOSAT
3. RADnet
4. Signet
5. UniNET
6. Wasantara
7. Telkom

TUGAS I TIK KELAS IX
Silahkan kalian cari pengertian dari kata – kata di bawah ini dari berbagai sumber yang ada di Internet :
 Dial Up
 ISDN ( Integrated Service Digital Network )
 ADSL ( Asymetric Digital Subscriber Line )
 GPRS ( General Packet Radio Service )
 WAP ( Wieless Aplication Protocol )
 3G
 WiFi
 VSAT (Very Small Aperture Terminal)
 TV Kabel
 PLC / Power Line Commuication
Hasil file yang kalian unduh /download bisa kalian kirimkan via e – mail ke alamat : mas.zheis@gmail.com
Jika tidak memungkinkan untuk mengirinkan via e – mail, maka file yang sudah diunduh bisa dicetak dan hasil cetakkannya diserahkan ke secara langsung ke guru TIK Kelas IX

GURAT MALAM